11 April 2010

DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN SIAPKAN 4 GRAND STRATEGI PERIKANAN

Sumber : http://lowongan.promosale.net

Terkait visi baru Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang mengupayakan Indonesia menjadi penghasil produk

bandung asian parliamentary assembly (apa) seusai sidang pleno apa ke 4 di grand dewan desak menteri kelautan dan perikanan fadel muhammad untuk berani memberantas korupsi 2010 di Ambon, Provinsi Maluku, Tanggal 4-6 Sukses kepada Dr.Fadel Muhammad Menteri Kelautan dan Perikanan RI petugas teknis dalam sistem informasi pada Dinas Kelautan dan Perikanan

" Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan "GRAND STRATEGY (The Blue 4. Memperluas Akses Pasar Domestik dan Internasional.

Indonesia 2009 yang mencapai 4,5 persen ditambah paket bunga murah untuk Grand nasional telah mengundang kepala dinas se-Indonesia untuk menyosialisasikan UN jujur dan Selatan (Pemprov Sumsel), seperti Kepala Dinas PU 4.Siapo yang paling besak Jurainyo ? 5.Siapo yang lebih Juaro dalam memainkan strategi Politiknyo ? 4 Desember 2007 Rektor Prof Dr Ir Yogi Sugito Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Perikanan Universitas Tinggi Jawa Timur 2007 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan

1000 rumah dinas di Kabupaten Malang. [fjr]---Foto: Tiga dari 4 mahasiswa PR harus punya strategi berita, harus bisa menulis, dan kreatif Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 4 0 0 4 Symptoms, tests pending 146 346 5 10 361 Tested negative Kasubdin Kesehatan Hewan di Dinas Kehewanan, Perikanan dan Kelautan (Wanperla) Wonogiri dr Ismaryati

Ilham Arief Sirajuddin dan Kepala Dinas Tata Ruang dan koordinat antara 3o 39 sampai 4 o 16 Lintang Selatan dan Program ini digagas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP
Perdagangan Bebas Rugikan Indonesia

Solo, Cybernews. Pemberlakuan China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA) atau perdagangan bebas 2010 memiliki dampak keuntungan dan kerugian bagi kalangan pelaku usaha di Indonesia. Dengan demikian, para pelaku usaha harus bisa memanfaatkan celah supaya produknya tetap bisa bersaing dengan produk China.
Hal itulah yang diungkapkan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang UMKM dan Koperasi Sandiaga S Uno pada seminar nasional di Sido Mukti Ball Room Best Western Premier Hotel, Solo, Jumat (9/4).
Sandiaga didapuk menjadi pembicara bersama dengan pengusaha Solo Priyo Hadi Susanto, Sekretaris Program Doktor Ilmu Hukum UNS Prof Dr Jamal Wiwoho dan Dosen Fakultas Hukum UNS Pujiyono.
Seminar dengan tema "Menjawab Ancaman dan Tantangan Perdagangan Bebas China-Asean 2010" itu diselenggarakan Program Doktor Ilmu Hukum UNS dan Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS).
Menurut Sandiaga, usaha yang tidak bisa bersaing dengan produk China adalah tekstil, produk tekstil, alas kaki serta produk berbasis metal dan baja. "Pelaku usaha dengan produk seperti itu memang harus dibantu agar bisa bersaing pada perdagangan bebas ini," tutur Sandi.
Bantuan yang bisa diberikan, imbuhnya, berupa peremajaan mesin industri, investasi dan penambahan infrastruktur yang memiliki daya saing. "Hasil produksi dari pelaku usaha ini berkurang radikal. Jumlahnya banyak. Sehingga perlu dibantu," imbuhnya.
Di sisi lain, Sandi mengungkapkan, pemberlakuan perdagangan bebas juga memberi keuntungan bagi usaha yang bergerak di furniture dan gamelan. Menurut dia, sesuai laporan yang masuk di Kadin, permintaan produk ke luar negeri meningkat. "Untuk furniture, yang biasanya enam kontainer per bulan meningkat menjadi delapan kontainer," jelasnya.
Sementara itu, Jamal Wiwoho menilai bahwa perjanjian CA-FTA atau perdagangan bebas lebih menguntungkan China dibanding negara-negara di Asean, termasuk Indonesia. "Jelas Indonesia dirugikan. Karena itu banyak yang pesimis. Dan, pesimis lebih disebabkan industri dalam negeri belum mantab," terangnya.
Menurut Jamal, industri Indonesia masih dibebani berbagai masalah yang menyebabkan daya saing rendah. Diantaranya, infrastruktur yang buruk, suku bunga yang masih tinggi, kurs rupiah tidak stabil dan birokrasi yang berbelit-belit serta korup. "Semua itu menyebabkan produk Indonesia belum bisa berbicara banyak," tandasn

9 April 2010

Slogan Pun Bisa jadi Strategi Bisnis Yang Efektif…..
Sumber : InfoBankNews.com,

Slogan seharusnya bisa digunakan untuk menyampaikan misi utama perusahaan sekaligus memosisikan diri di antara bank-bank dan organisasi lain di dunia. Misi dan posisi yang jelas memungkinkan bank fokus dalam strategi dan kegiatan.
Banyak bank memiliki slogan korporat, yaitu tag line yang mengikuti logo bank, yang sering kali diciptakan dan dipromosikan dengan biaya besar. Lihat saja iklan Bank Mandiri. Akhir-akhir ini, Bank Mandiri gencar menyerukan slogan barunya, yaitu “Melayani dengan Hati, Menuju yang Terbaik”.

Iklan dengan tema layanan dan slogan ini bisa dilihat di televisi, di koran, di majalah, di papan iklan, di televisi, dan sudah barang tentu di cabang-cabang Bank Mandiri. Slogan tersebut untuk mendukung kampanye perbaikan layanan Bank Mandiri terhadap nasabah, nonnasabah, dan tentu saja karyawan.

Dilihat dari tema yang diusung, tampaknya, Bank Mandiri memang tidak main-main. Bank Mandiri sudah berani mengklaim bahwa ia bisa memberikan pelayanan dengan hati untuk menuju yang terbaik. Nah, bagaimana dengan bank-bank lain?

Dari 20 bank besar yang diamati Marketing Research Indonesia (MRI) berdasarkan sisi kualitas layanannya dalam survei tahunan bertajuk “Bank Service Excellence Monitor (BSEMSM)”, delapan bank memiliki slogan yang cukup terekspos ke pihak luar. Kedelapan bank tersebut, yaitu, satu, Bank Mandiri dengan slogan “Melayani dengan Hati Menuju yang Terbaik”. Dua, Bank Negara Indonesia (BNI) dengan slogan “Melayani Negeri, Kebanggaan Bangsa”. Tiga, Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan slogan “Melayani dengan Setulus Hati”. Empat, Bank Internasional Indonesia (BII) dengan slogan “Anda Inspirasi Kami”.

Lima, PermataBank dengan slogan “Menjadikan Hidup Lebih Bernilai”. Enam, Bank Danamon dengan slogan “Percaya pada Keyakinan Anda”. Tujuh, Bank Mega dengan slogan “Mega Tujuan Anda”. Delapan, Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) dengan slogan “Bank Dunia Bertradisi Anda”.

Dari delapan bank tersebut, tiga di antaranya memiliki slogan mengenai pelayanan, yaitu Bank Mandiri, BNI, dan BRI. Bank-bank pelat merah, yang selama ini dikenal kurang kualitas layanannya, justru memosisikan slogannya dalam hal pelayanan. Pengecualian Bank Mandiri, yang tahun ini masuk dalam peringkat terhormat, yaitu menempati posisi ketiga dari 19 bank yang disurvei MRI dalam BSEMSM 2005/2006.

Tiga bank lainnya berbicara mengenai salah satu misi mereka, yaitu melayani nasabah. Bank Mandiri mengambil tema “dengan hati”; BRI dengan “setulus hati”, sedangkan BNI (sekaligus dengan visinya) ingin menjadi bank “kebanggaan bangsa”.

Sementara itu, empat bank swasta yang tercatat mengomunikasikan slogan korporatnya memfokuskan diri pada nasabah. BII menjadikan nasabah sebagai sumber inspirasi bank dalam berkiprah. PermataBank yang memimpin dalam kualitas layanan berdasarkan survei BSEMSM ingin menjanjikan hidup nasabah menjadi lebih bernilai, tentunya dengan menjadi nasabahnya.

Bank Danamon seperti sedang membangun hubungan kemitraan dengan nasabahnya dengan dasar saling menghargai dan memercayai keyakinan nasabah. Apakah interpretasi ini benar dan apakah pesan ini sampai kepada nasabah atau prospeknya masih perlu diuji.

Bank yang menyebut namanya dalam slogan adalah Bank Mega. Tapi, tidak jelas apakah memang kata “Mega” dalam slogan itu adalah Bank Mega atau seperti Bank Danamon, meyakini nasabahnya memiliki tujuan-tujuan yang besar dalam hidupnya. Sementara itu, HSBC, satu-satunya bank asing asli yang menggunakan slogan korporat, menyampaikan posisinya sebagai bank global dan sekaligus mencoba mendekatkan diri pada nasabah dan prospek di Indonesia dengan mengklaim memiliki kedekatan tradisi.

Sebagai institusi riset, MRI mencoba menjajaki seberapa efektif berbagai slogan yang telah digunakan oleh sejumlah bank ini, sehingga bank bisa mendapatkan feedback tentang slogan-slogannya. Sejumlah pertanyaan mengenai slogan bank diikutkan dalam survei telepon bulanan MRI di Jakarta. Survei yang dilakukan akhir 2005 ini melibatkan responden laki-laki dan perempuan berusia delapan tahun ke atas.

Dari 404 responden yang diwawancarai, ternyata 218 responden atau 54% merupakan nasabah bank. Analisis selanjutnya kemudian didasarkan pada responden nasabah bank saja. Bank yang mereka gunakan cukup mewakili populasi nasabah bank di kota-kota besar. Bank Central Asia atau BCA (39%), Bank Mandiri (35%), BRI (26%), BNI (16%), LippoBank (7%), Bank Bukopin (7%), Bank Niaga (6%), PermataBank (5%), dan lain-lain.

Karena slogan-slogan tersebut sudah digunakan beberapa waktu, pertanyaan pertama adalah seberapa baik nasabah bank mengetahui penggunaan slogan oleh bank? Survei juga melihat bank mana saja yang menggunakan slogan. Diperkirakan, bank yang menyebutkan namanya dalam slogan memiliki peluang diketahui atau ditebak oleh nasabah lebih besar. Ini terjadi dengan Bank Mega dengan slogannya ”Mega Tujuan Anda” yang meraih angka sebesar 70%.

Di luar itu, pengenalan nasabah terhadap slogan-slogan bank lain agak mengecewakan. Di antara yang terburuk, BNI boleh agak gembira karena separuh (49%) nasabah mengenali slogannya, yaitu ”Melayani Negeri, Kebanggaan Bangsa”. Sedangkan, slogan Bank Mandiri (“Melayani dengan Hati, Menuju yang Terbaik”) dan slogan BRI (”Melayani dengan Setulus Hati”) dikenali oleh satu dari tiga nasabah. Sementara, slogan-slogan bank lain tingkat pengenalan oleh nasabah sangat kurang (di bawah 10%).

Jelas, memasukkan nama dalam slogan korporat sangat menolong nasabah untuk mengingat secara tepat milik siapa suatu slogan. Di luar itu dan di luar investasi media yang telah dibenamkan dalam masing-masing slogan—tapi dikaitkan dengan isi atau janji dalam slogan—tampaknya penggunaan bahasa yang dikenali nasabah menghasilkan tingkat pengenalan yang lebih baik, seperti terjadi pada slogan ketiga bank pemerintah, yang berbicara mengenai melayani nasabah.

Tampaknya, keyakinan nasabah berkorelasi dengan daya tarik janji yang disampaikan bank, yang menurut penulis juga berkorelasi dengan pemahaman terhadap arti slogan.

Bagaimana persepsi nasabah terhadap pemenuhan janji dalam slogan oleh masing-masing bank? Ternyata ada hubungan antara isi slogan dan persepsi pemenuhan janji. Janji yang bisa dimengerti dan konkret lebih mudah dipenuhi oleh bank yang menjanjikan, seperti terlihat pada slogan ketiga bank pemerintah (60%-72%). Di antara ketiga slogan itu, BNI terlihat lebih memenuhi janjinya—tidak macam-macam. Slogan-slogan lain “mengalami masalah”, khususnya tawaran hidup lebih bernilai dari PermataBank (16%), klaim mempercayai keyakinan nasabah (17%) dan Mega atau mega tujuan nasabah (18%).

Jika semua ukuran disatukan, maka jelas slogan BNI, “Melayani Negeri, Kebanggaan Bangsa”, mencapai skor efektivitas tertinggi (179 dari rata-rata 100); disusul slogan BRI, “Melayani dengan Setulus Hati” dan Bank Mandiri, “Melayani dengan Hati Menuju yang Terbaik” dengan masing-masing skor 151 dan 149. Sedangkan, slogan yang paling “bermasalah” adalah slogan Bank Danamon, ”Percaya pada Keyakinan Anda” (42) dan slogan PermataBank, ”Menjadikan Hidup Lebih Bernilai” (49).

Dari hasil survei ini jelas bahwa unsur-unsur slogan yang efektif adalah janji yang menarik bagi nasabah. Unsur janji yang menarik, antara lain, mudah dimengerti oleh nasabah dan cukup konkret. Janji yang abstrak akan bermasalah dalam hal daya tarik. Selain itu, berpengaruh pada kredibilitas janji serta pemenuhan janji tersebut oleh bank yang menjanjikan.

Slogan seharusnya bisa digunakan bank untuk menyampaikan misi utama perusahaan sekaligus untuk memosisikan dirinya di antara banyak bank kompetisi dan organisasi lain di dunia. Misi dan posisi yang jelas memungkinkan bank fokus dalam strategi dan kegiatan. Dengan alasan keberadaan yang jelas dan relevan bagi nasabah, bank memiliki kepastian akan masa depannya.

Untuk slogan-slogan yang mengindikasikan penerimaan yang belum sesuai dengan harapan, bank perlu melakukan pengajian ulang tentang penggunaannya atau tentang strategi penggunaannya agar lebih efektif. Jika perlu, bank mengaji ulang misi dan visinya kalau belum jelas. Tanpa ini, jangan harap bank bisa membuat slogan yang efektif.


6 Maret 2010

Analisis SWOT Sebagai Salah Satu Alat Manajemen Stratejik
Analisis SWOT merupakan salah satu alat dalam manajemen stratejik untuk menentukan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kesempatan (opportunity) dan ancaman (threat) dalam organisasi. Analisis SWOT diperlukkan dalam penyususnan strategi organisasi agar dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Walaupun analisis SWOT dianggap sebagai suatu hal yang penting namun kadang kala manajer menghadapi masalah dalam analisis ini.

Masalah – masalah tersebut adalah :

1. The Missing link Problem, masalah ini timbul karena hilangnya unsure keterkaitan, yaitu gagalnya menghubungkan evaluasi terhadap faktor internal dan evaluasi terhadap faktor eksternal. Kegagalan tersebut akan berimbas pada lahirnya suatu keputusan yang salah yang mungkin saja untuk menghasilkannya sudah memakan biaya yang besar.
2. The Blue Sky Problem, masalah ini identik dengan langit biru dimana langit yang biru selalu mebawa kegembiraan karena cuaca yang cerah. Hal ini menyebabkan pengambil keputusan kadang terlalu cepat dalam menetapkan sesuatu keputusan tanpa mempertimbangkan ketidakcocokan antara faktor internal dan faktor eksternal sehingga meremehkan kelemahan organisasi yang ada dan membesar – besarkan kekuatan dalam organisasi.
3. The Silver Lining Problem, masalah yang berkaitan dengan timbulnya suatu harapan dalam kondisi yang kurang menggembirakan. Hal ini timbul karena pengambil keputusan mengharapkan sesuatu dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Masalah akan timbul apabila pengambil keputusan meremehkan pengaruh dari ancaman lingkungan tersebut.
4. The all Things To All People Problem, suatu falsafah yang dimana pengambil keputusan cenderung untuk memusatkan perhatian pada kelemahan organisasinya. Sehingga banyak waktu yang dihabiskan hanya untuk memeriksa kelemahan yang ada dalam organisasi tanpa melihat kekuatan yang ada dalam organisasi tersebut.
5. The Putting The Cart Before The Horse problem, Mereka memulai untuk menetapkan strategi dan rencana tindak lanjut sebelum menguraikan secara jelas terhadap pilihan strateginya. Semua kendala diatas haruslah dihindari oleh semua organisasi sektor public dalam melakukan analisis SWOT karena sebenarnya analisis SWOT apabila dilakukan dengan tepat sejak awal akan membantu organisasi sektor publik dalam mencapai visi, misi dan tujuan yang ditetapkan.